• Privacy Policy

Education Center

Education Center blog merupakan salah satu dari sekian banyak blog yang menyajikan berbagai informasi, dalam hal itu Education Center blog turut serta menyumbang informasi supaya dapat menambah wawasan kita semua

  • Home
  • Artikel
    • hukum menggambar binatang
    • Perbedaan antara log off dan lock
    • Cara menghilangkan jejak file yang pernah dibuka
  • Makalah
    • Makalah
  • Resep Masakan
    • Resep masakan
  • Humor
    • Cerita Lucu
  • Do'a-Do'a
    • DKumpulan do'a-do'a
  • kesehatan
    • Menurunkan Berat Badan
    • Memutihkan Wajah
Home » makalah » Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia

Unknown
Add Comment
makalah
Minggu, 02 Desember 2012


Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik danBenar

Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan situasi pembicaraan (yakni, sesuai dengan lawan bicara, tempat pembicaraan, dan ragam pembicaraan) dan sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia (seperti: sesuai dengan kaidah ejaan, pungtuasi, istilah, dan tata bahasa). Pengertian Bahasa Indonesia yang baik adalah Bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Sedangkan pengertian Bahasa Indonesia yang Benar adalah Bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaedah-kaedah kebahasaan yang berlaku.

Di antara kaidah-kaidah yang dipergunakan, antara lain:

-          Fonologi ,ialah ilmu yang mempelajari seluk-beluk bunyi bahasa. Bunyi bahasa dibedakan menjadi 2, yakni:

a.      Fonetik (fona), yaitu bunyi bahasa yang tidak membedakan makna.

b.      Fonemik (fonem), yaitu bunyi bahasa yang dapat  membedakan makna.

-          Morfologi, ialah ilmu yang mempelajari seluk-beluk kata secara gramatikal. Setiap kata dapat dibagi atas bagian-bagian yang terkecil. Jadi, morfologi adalah cabang linguistic yang  mempelajari seluk-beluk kata serta pengaruh  perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.

-          Sintaksis, ialah ilmu yang mempelajari tentang struktur kalimat.

-          Semantik, ialah sistem atau  penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa pada umumnya.

-          Etimologi, ialah ilmu yang  mempelajari tentang asal-usul bahasa/kata.

Kaidah Dasar Bahasa Indonesia

a.       Kata yang penting disebutkan atau dituliskan lebih dulu, sesudah itu baru keterangannya. Atau kata yang diterangkan di depan kata yang menerangkan. Dengan istilah lain bahasa Indonesia mengikuti hukum D-M (Diterangkan – menerangkan).

Misalnya: Hotel Bali, sepeda mini, waktu sedikit, kekuatan maksimum, mala mini, terima kasih banyak.

Tetapi seperti umumnya kaidah bahasa itu tidak mutlak sifatnya, dalam hal ini pun susunan diterangkan – menerangkan juga mempunyai kekecualian antara lain:

a)      Kata depan, misalnya:

-          Mira baru saja datang dari Jakarta

-          Rencananya hari ini Ery akan pergi ke Palembang

b)      Kata bilangan, misalnya:

-          Adi mempunyai tiga buah kelereng dan sebuah layang-layang.

-          Semua pengendara sepeda motor harus mengenakan helm.

c)      Kata keterangan, misalnya:

-          Hari sudah siang, Ibu belum juga datang.

d)     Kata kerja bantu, misalnya:

-          Ani pasti datang jika diundang.

e)      Kata majemuk yang mempunyai arti kiasan, misalnya:

-          Panjang tangan                 - keras hati

f)       Kata majemuk dari bahasa asing, misalnya:

-          Perdana menteri

-          bumiputera

b.      Tidak terjadi perubahan kata benda akibat penjamakan, misalnya:

-          Dua bilah keris, sepuluh buah durian.

-          Rombongan penari, persatuan pelajar.

c.       Tidak mengenal tingkatan dalam pemakaian Bahasa Indonesia, misalnya:

-          Atas kedatangan bapak-bapak, saya ucapkan terima kasih.

Pengertian Bahasa Indonesia Baku

Bahasa baku ialah bahasa yang menjadi pokok, yang menjadi dasar ukuran, atau yang menjadi standar.

Bahasa Indonesia baku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yangbentuk bahasanya telah dikodifikasi, diterima, dan difungsikan ataudipakai sebagai model oleh masyarakat Indonesia secara luas.

Bahasa Indonesia yang baku ialah bahasa Indonesia yang digunakan orang-orang terdidik dan yang dipakai sebagai tolak banding penggunaan bahasa yang dianggap benar. Ragam bahasa Indonesia yang baku ini biasanya ditandai oleh adanya sifat kemantapan dinamis dan ciri kecendekiaan. Yang dimaksud dengan kemantapan dinamis ini ialah bahwa bahasa tersebut selalu mengikuti kaidah atau aturan yang tetap dan mantap namun terbuka untuk menerima perubahan yang bersistem. Ciri kecendekiaan bahasa baku dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengemhuan.

Bahasa Indonesia baku dipakai dalam :

1.         Komunikasi resmi, seperti dalam surat-menyurat resmi, peraturan pengumuman instansi resmi atau undang-undang;

2.         Tulisan ilmiah, seperti laporan penelitian, makalah, skripsi, disertasi dan buku-buku ilmu pengetahuan.

3.         Pembicaraan di muka umum, seperti dalam khotbah, ceramah, kuliah pidato, dan

4.         Pembicaraan dengan orang yang dihormati atau yang belum dikenal.

Fungsi Bahasa Indonesia Baku

Bahasa Indonesia baku mempunyai empat fungsi, yaitu pertama,pemersatu; kedua, penanda kepribadian; ketiga, penambah wibawa; dan keempat, kerangka acuan.

Pertama, bahasa Indonesia baku berfungsi pemersatu. Bahasa Indonesia baku mempersatukan atau memperhubungkan penutur berbagai dialekbahasa itu. Bahasa Indonesia baku mempersatukan mereka menjadi satumasyarakat bahasa Indonesia baku. Bahasa Indonesia baku mengikatkebhinekaan rumpun dan bahasa yang ada di Indonesia dengan mangatasib atas-batas kedaerahan.

Kedua, bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai penanda kepribadian.Bahasa Indonesia baku merupakan ciri khas yang membedakannyadengan bahasa-bahasa lainnya. Bahasa Indonesia baku memperkuatperasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa Indonesia baku.Dengan bahasa Indonesia baku kita menyatakan identitas kita.

Ketiga, bahasa Indonesia baku berfungsi penambah wibawa. Pemilikanbahasa Indonesia baku akan membawa serta wibawa atau prestise. Fungsipembawa wibawa berkaitan dengan usaha mencapai kesederajatandengan peradaban lain yang dikagumi melalui pemerolehan bahasa baku.

Keempat, bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka acuan.Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka acuan bagi pemakainya dengan adanya norma atau kaidah yang dikodifikasi secara jelas. Norma atau kaidah bahasa Indonesia baku itu menjadi tolok ukur pemakaian bahasa Indonesia baku secara benar.

EYD ( Ejaan yang Disempurnakan)

A. Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya.

Huruf  Nama   Huruf  NamaHuruf     Nama

A a      a          J j         je         S s       es

B b      be        K k      ka        T t        te

C c       ce         L l        el         U u      u

D d      de        M m     em       V v      fe

E e       e          N n      en        W w    we

F f       ef         O o      o          X x      eks

G g      ge        P p       pe        Y y      ye

H h      ha        Q q      ki         Z z       zet

I i         i           R r       er                    

B. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u. Contoh Pemakaian dalam Kata

            Di Awal          Di Tengah       Di Akhir

a           api                   padi                 lusa

e*        enak                 petak               sore

            emas                kena                 tipe

i           itu                    simpan             murni

o          oleh                 kota                 radio

u          ulang               bumi                ibu

* Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.

Misalnya:

-          Anak-anak bermain di teras (téras).

-          Upacara itu dihadiri pejabat teras pemerintah.

C. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Huruf Konsonan         Contoh Pemakaian dalam Kata

            Di Awal          Di Tengah       Di Akhir

b          bahasa             sebut                adab

c          cakap               kaca                 –

d          dua                  ada                  abad

f           fakir                 kafir                 maaf, dst.

D. Huruf Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

Huruf Diftong Contoh Pemakaian dalam Kata

            Di Awal          Di Tengah       Di Akhir

ai         ain                   syaitan             pandai

au        aula                  saudara            harimau

oi         –                      boikot              amboi

E. Gabungan Huruf Konsonan

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.

Contoh Pemakaian dalam Kata

            Di Awal          Di Tengah       Di Akhir

kh        khusus             akhir                tarikh

ng        ngilu                bangun                        senang

ny        nyata               hanyut             –

sy         syarat               isyarat              arasy

F. Pemenggalan Kata

1.  Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut:

a.         Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan kata itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

            Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah

            Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.

            Misalnya: au-la            bukan  a-u-la

sau-da-ra   bukan  sa-u-da-ra

b.         Jika di tengah kata ada huruf  konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.

            Misalnya:  ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang.

c.         Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.

            Misalnya: man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa.

d.        Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

            Misalnya: in-strumen, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trik, ikh-las

2.  Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.

            Misalnya: makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah

            Catatan:

a.         Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.

b.         Akhiran -i tidak dipenggal.

c.         Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut.

            Misalnya: te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi

3.  Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan kata dapat dilakukan

1)        di antara unsur-unsur itu atau

2)        pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b, 1c, dan 1d di atas.

            Misalnya: bio-grafi, bi-o-gra-fi

foto-grafi, fo-to-gra-fi

Keterangan:

Nama orang, badan hukum, dan  nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.

II. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring

A.    Huruf Kapital atau Huruf Besar

1.      Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya: Dia mengantuk.

Apa maksudnya?

2.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

       Misalnya: Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"

Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"

3.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

                               Misalnya: Allah, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen

4.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya: Mahaputra Yamin

Sultan Hasanuddin

5.      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya: Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

Tahun ini ia pergi naik haji.

6.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya: Wakil Presiden Adam Malik

Perdana Menteri Nehru

7.      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.

Misalnya: Siapa gubernur yang baru dilantik itu?

Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.

8.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya: Amir Hamzah

Dewi Sartika

9.      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran.

Misalnya: mesin diesel

10 volt

10.  Huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.

Misalnya: bangsa Indonesia

suku Sunda

11.    Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:mengindonesiakan kata asing

keinggris-inggrisan

12.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya: bulan Agustus, hari Natal

bulan Maulid, Perang Candu

13.    Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.

       Misalnya: Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.

14.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Misalnya: Asia Tenggara, Kali Brantas.

15.    Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.

Misalnya: berlayar ke teluk

16.    Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Misalnya: garam  inggris, gula jawa

17.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.

Misalnya:  Republik Indonesia

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

18.  Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya: menjadi sebuah republik

beberapa badan hukum

19.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya: Perserikatan Bangsa-Bangsa

Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

20.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

                   Misalnya: Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

21.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Misalnya:  Dr.       doktor

M.A.    master of arts

S.H.     sarjana hukum

22.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya: "Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.

 Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"

23.  Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya: Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

24.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

 Misalnya: Sudahkah Anda tahu?

Surat Anda telah kami terima.

B. Huruf Miring

1.    Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

            Misalnya: majalah Bahasa dan Kesusastraan

buku Negarakertagama karangan Prapanca

2.    Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

            Misalnya: Huruf pertama kata abad ialah a.

Dia bukan menipu, tetapi ditipu.

3.    Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

            Misalnya: Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.

III. Penulisan Kata

1.    Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

Kantor pajak penuh sesak.

2.    Kata Turunan

1.      Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Misalnya: bergeletar, dikelola

2.      Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.

Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi

3.      Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya: menggarisbawahi, menyebarluaskan

4.      Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya: adipati         mahasiswa

aerodinamika   mancanegara

Catatan:

1)      Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).

            Misalnya: non-Indonesia

pan-Afrikanisme

2)      Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.

       Misalnya: Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungikita.

Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

3.    Kata Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.

Misalnya: anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu.

4.    Gabungan Kata

1.  Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

                Misalnya: duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.

2.  Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.

Misalnya: alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda

3.  Gabungan kata berikut ditulis serangkai.

Misalnya: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah.

Pengertian Paragraf

Paragraf adalah rangkaian kalimat yang disusun secara sistematis dan logis sehingga membentuk kesatuan pokok pembahasan. Paragraf dibentuk dari satu gagasan utama dan beberapa

Paragraf bukan sekedar pembagian konvensional dari bab atau kumpulan dari kalimat-kalimat. Gorys Keraf (1989: 62) menyatakan paragraf merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Paragraf merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Dalam paragraf, gagasan menjadi jelas oleh uraian-uraian tambahan, yang maksudnya tidak lain untuk menampilkan pokok pikiran tadi secara lebih jelas.

Sementara itu, A. Hamid Hasan Lubis (1994: 111) dalam Glosarium Bahasa dan Sastra yang disusunnya mendefinisikan paragraf sebagai kesatuan bahasa yang mengandung satu tema, mengungkap satu pikiran yang lengkap. Dari sisi kuantitas kalimat, paragraf bisa terbentuk dari satu kalimat, dua kalimat, tiga kalimat, atau sejumlah kalimat sesuai keperluan. Lubis juga menerangkan, biasanya paragraf ditandai dengan cara penulisannya yang dimulai dengan garis baru dan menjorok ke dalam halaman.

Dalam batasan kamus, Kamus Linguistik yang disusun Harimurti Kridalaksana (2001: 154) membatasi paragraf adalah: 1. satuan bahasa yang mengandung satu tema dan perkembangannya; 2. bagian wacana yang mengungkapkan pikiran atau hal tertentu yang lengkap tetapi yang masih berkaitan dengan isi seluruh wacana; dapat terjadi dari satu kalimat atau sekelompok kalimat yang berkaitan. Sedangkan definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997: 26/729) paragraf adalah bagian wacana yang mengungkapkan satu pikiran atau satu tema yang lengkap dalam ragam tulis ditandai oleh baris pertama yang menjorok ke dalam atau jarak spasi yang lebih.[1]

Jenis Paragraf  Berdasarkan Letak  Pikiran Utamanya

Jenis paragraph dilihat dari letak pikiran utamanya, antara lain:

a.      Pada awal paragraf

Pengertian awal paragraf ini dapat merupakan kalimat pertama, dapat juga kalimat kedua. Dengan menempatkan kalimat pokok pada awal paragraf, gagasan sentral akan mendapat penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasanya bersifat deduktifyaitu mula-mula mengemukakan pokok persoalan, kemudian menyusul uraian-uraian yang terperinci. Kalimat-kalimat lain dalam paragraf tersebut harus dipusatkan untuk memperjelas ide atau gagasan sentral yang dikembangkan.

b.      Pada akhir paragraf

Kalimat topik dapat pula ditempatkan pada bagian akhir paragraf. Paragraf yang kalimat pokoknya berada diakhir paragraf bersifat induktif. Menyusun paragraf seperti ini memerlukan keterampilan lebih dari penulis. Penulis harus mampu menyusun kalimat sehingga dapat mencapai klimaks pada kalimat pokok yang terdapat pada akhir paragraf. Cara ini lebih sulit, tetapi lebih efektif, terutama dalam mengemukakan argumentasi.

c.       Pada awal dan akhir paragraf

Kalimat topik dapat pula ditempatkan pada bagian awal dan akhir dari paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir sering mengulangi gagasan dalam kalimat pertama dengan sedikit tekanan atau variasi

d.      Pada seluruh paragraf

Kalimat topik atau kalimat utama dapat juga termuat dalam seluruh paragraf. Dalam hal ini terdapat kalimat yang khusus yang menjadi kalimat topiknya. Paragraf semacam ini terutama dijumpai dalam uraian-uraian yang bersifat deskriptif atau naratif.

Jenis Paragraf  Berdasarkan Cara Pengembangannya

Jenis paragraf dilihat dari cara pengembangannya, antara lain:

a.      Paragraf narasi

Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan satu atau beberapa kejadian dan bagaimana berlangsungnya peristiwa-peristiwa tersebut. Kalimat-kalimat dalam paragraf narasi yang berisi rangkaian kejadian atau peristiwa biasanya disusun menurut urutan waktu (kronologis).

Isi paragraf (karangan) narasi boleh tentang fakta yang benar-benar terjadi, boleh pula tentang sesuatu yang khayali. Otobiografi atau biografi seorang tokoh terkenal biasanya ditulis dalam bentuk narasi, dan isi karangan itu memang benar-benar nyata atau berdasar fakta sejarah yang tidak dibuat-buat. Tetapi cerpen, novel, hikayat, drama, dongeng, dan lain-lain seringkali hanyalah hasil kreasi daya khayal seorang pengarang, yang sebenarnya cerita itu sendiri tak pernah terjadi. Namun karangan ini juga termasuk dalam karangan narasi.

b.      Paragraf deskripsi (lukisan)

Karangan deskripsi selalu berusaha melukiskan dan mengmukakan sifat, tingkah laku seseorang, suasana dan keadaan suatu tempat atau sesuatu yang lain. Misalnya, suasana kampung yang begitu damai, tenteram, dan saling menolong, dapat dilukiskan dalam karangan deskripsi. Juga suasana hiruk pikuk ketika terjadi kebakaran, dapat pula disajikan dalam bentuk deskripsi.

Lukisan dalam karangan deskripsi harus diupayakan sedemikian rupa, agar pembaca seolah-olah melihat sendiri apa yang kita lukiskan tersebut. Sudah tentu, menyusun karangan deskripsi membutuhkan keterlibatan emosi (perasaan) pengarang.

Dalam karangan deskriptif, untukmemperoleh kesan “hidup” perlu dilukiskan bagian-bagian yang dianggap penting sedetail mungkin. Kalau melukiskan betapa mengerikannya tersesat di hutan, maka situasi hutan yang dapat menimbulkan kengerian itu harus dilukiskan selengkap-lengkapnya, sehingga pembaca dapat membayangkan bagaimana jika dia sendiri yang tersesat di situ.

c.       Paragraf eksposisi (paparan)

Karangan eksposisi adalah karangan yang berusaha menerangkan suatu hal atau suatu gagasan. Dalam memaparkan sebuah ide pokok, kita dapat menjelaskan dan melengkapinya dengan memberi keterangan yang cukup atau dapat pula mengembangkannya sehingga menjadi luas dan gampang dimengerti.

Banyak topik yang bisa dikembangkan dengan jenis tulisan eksposisi, misalnya:

q  Menjelaskan latar belakang pendirian perguruan tinggi.

q  Memberikan petunjuk bagaimana proses jalannya sebuah mesin.

q  Membuat laporan kuliah kerja lapangan, laporan studi banding, atau laporan praktik kerja lapangan (magang).

q  Menguraikan perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia.

q  Proses pengolahan berita surat kabar. .

q  dan lain-lain.

Seperti yang terdata di atas, salah satu bentuk karangan eksposisi adalah uraian tentang proses. Jika kita memaparkan tentang sebuah proses, misalnya proses pengolahan berita di surat kabar, maka baik sekali jika paparan disajikan dalam beberapa tahapan. Tiap tahapan diuraikan menurut urutan waktu. Yang dahulu didahulukan, yang kemudian dikemudiankan. Tiap langkah dipaparkan sejelas-jelasnya sehingga pembaca dapat mengerti.

Supaya paparan bertambah jelas, perlu dipergunakan contoh-contoh, ilustrasi, gambar-gambar, tabel, diagram, peta, denah, dan sebagainya. Oleh karena itu jika hendak memaparkan sesuatu hal atau gagasan, hendaknya hal atau gagasan itu kita kuasai betul-betul.

d.      Paragraf argumentasi (persuasi)

Paragraf argumentasi atau persuasi merupakan jenis karangan yang paling sukar bila dibandingkan dengan tiga jenis yang telah diuraikan di muka.Tetapi hal itu tidak berarti bahwa jenis karangan argumentasi ini lebih penting dan lebih berharga daripada jenis karangan narasi, deskripsi, atau eksposisi. Karangan argumentasi lebih sukar karena pada jenis karangan ini pengarang wajib mengemukakan argumentasi (alasan), bukti atau contoh yang dapat meyakinkan, sehingga terpengaruh dan membenarkan gagasan, pendapat, sikap, dan keyakinannya.

Untuk meyakinkan orang lain agar terpengaruh dan kemudian bertindak seperti yang diinginkan, tentu ada persyaratannya. Pengarang harus berpikir secara kritis dan logis. Dia harus terbuka menerima pendapat orang lain, lalu menganalisis dan mempertimbangkannya secara baik dan rasional. Agar apat mengajukan argumentasi, pengarang sudah pasti harus memiliki pengetahuan dan pandangan yang cukup luas tentang hal yang diperbincangkan. Kelogisan berpikir, keterbukaan sikap dan keluasan pandangan terhadap masalah yang diperbincangkan, akan banyak sekali peranannya untuk mempengaruhi orang lain. Maka ini semua merupakan persyaratan yang diperlukan untuk membikin karangan argumentasi.itulah sebabnya, tadi dikatakan karangan argumentasi atau persuasi itu lebih sukar. Kecuali lebih sukar, karangan argumentasi juga lebih beresiko karena karangan ini berpendapat dan berusaha meyakinkan orang lain, maka sangat boleh jadi pengarangnya berbeda atau bahkan berlawanan pendapat dengan pembaca. Sementara itu, jenis karangan narasi, deskripsi, atau eksposisi, resiko yang dihadapi dihadapi pengarang biasanya relatif lebih kecil.








Tweet
Title : Bahasa Indonesia
Description : Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik danBenar Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa Indonesia yang digunakan sesuai den...
Rating : 5

0 Response to "Bahasa Indonesia"

← Posting Lebih Baru Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Beranda
Photobucket

MENGENAI SAYA

Unknown
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

  • artikel (8)
  • Do'a (1)
  • Humor (2)
  • makalah (15)
  • puisi (1)
  • Resep Masakan (2)
  • soal (2)
Back to top!
Copyright 2013 Education Center - All Rights Reserved Design by Jaka Pentol - Powered by Blogger