• Privacy Policy

Education Center

Education Center blog merupakan salah satu dari sekian banyak blog yang menyajikan berbagai informasi, dalam hal itu Education Center blog turut serta menyumbang informasi supaya dapat menambah wawasan kita semua

  • Home
  • Artikel
    • hukum menggambar binatang
    • Perbedaan antara log off dan lock
    • Cara menghilangkan jejak file yang pernah dibuka
  • Makalah
    • Makalah
  • Resep Masakan
    • Resep masakan
  • Humor
    • Cerita Lucu
  • Do'a-Do'a
    • DKumpulan do'a-do'a
  • kesehatan
    • Menurunkan Berat Badan
    • Memutihkan Wajah
Home » makalah » cara mengatasi anak hiperaktif

cara mengatasi anak hiperaktif

Unknown
Add Comment
makalah
Selasa, 14 Mei 2013


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Mendidik anak untuk bisa pintar mungkin bisa dilakukan oleh siapa saja. Tetapi mendidik anak untuk mempunyai emosi yang stabil, tidak semua orang bisa melakukannya. Dibutuhkan orang tua dan guru yang sabar, serius, ulet, serta mempunyai semangat dedikasi tinggi dalam memahami dinamika kepribadian anak. Perilaku siswa usia sekolah saat ini banyak dikeluhkan guru. Para guru mengeluh sikap anak-anak yang sangat sulit di atur (hiperaktif) emosinya di kelas.
Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaran guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan guru kepadanya. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa maksimal.
Untuk itulah dibutuhkan suatu pendekatan untuk membantu anak-anak yang hiperaktif tersebut supaya mereka dapat memaksimalkan potensi diri dan meningkatkan prestasinya. Pendekatan ini yaitu dengan adanya bimbingan konseling berupa layanan atau treatment yang sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga dengan demikian, diharapkan setiap anak akan memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik tanpa terkecuali, karena pengajaran yang diberikan telah disesuaikan dengan kemampuan dan kesulitan yang dimilikinya.

  1. Rumusan Masalah
            Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan anak hiperaktif ?
2.      Apa saja ciri-ciri anak hiperaktif ?
3.      Bagaimana cara mengatasi anak hiperaktif ?


BAB II
KAJIAN TEORI

  1.  Definisi Anak Hiperaktif
Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity disorder). Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome.
Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia tujuh tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Ciri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa.
Dr. Seto Mulyadi dalam bukunya “Mengatasi Problem Anak Sehari-hari“ mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif. ADHD adalah sebuah kondisi yang amat kompleks; gejalanya berbeda-beda.
Para ahli mempunyai perbedaan pendapat mengenai hal ini, akan tetapi mereka membagi ADHD ke dalam tiga jenis yaitu :
1.      Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian.
Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau Impulsif.     Mereka tidak menunjukkan gejala hiperaktif. Tipe ini kebanyakan ada pada anak  perempuan. Mereka seringkali melamun dan dapat digambarkan seperti sedang  berada “di awang-awang”.
2. Tipe anak yang hiperaktif dan impulsive.
Mereka menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan impulsif, tetapi bisa  memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan pada anak- anak kecil.


3.Tipe gabungan.
    Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan impulsif.  Kebanyakan anak anak termasuk tipe seperti ini. Jadi yang dimaksud dengan hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekehendak hatinya). Anak hiperaktif selalu bergerak dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai oleh anak-anak lain seusia mereka, dikarenakan perhatian mereka suka beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Mereka seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan mengasikkan namun tidak kunjung datang.

  1. Ciri-Ciri Anak Hiperaktif
v  Ada tiga tanda utama anak yang menderita ADHD, yaitu :
a.  Inatensi Tidak ada perhatian
Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.Ketidak-mampuan memusatkan perhatian pada beberapa hal seperti membaca,  menyimak pelajaran.
b. Hiperaktif
Mempunyai terlalu banyak energi. Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
c. Impulsif
Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Bertindak tanpa dipikir, misalnya mengejar bola yang lari ke jalan raya, menabrak pot bunga pada waktu berlari di ruangan, atau berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibatnya.   Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
  Selain ketiga gejala di atas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.
v  Adapun ciri-ciri khusus anak yang hiperaktif diantaranya ialah sebagai berikut :
Ø  Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat.
Ø  Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis.
Ø  Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak selayaknya.
Ø  Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.
Ø  Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak pernah habis.
Ø  Sering terlalu banyak bicara.
Ø  Sering sulit menunggu giliran.
Ø  Sering memotong atau menyela pembicaraan.
Ø  Jika diajak bicara tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis terhadap lawan bicaranya).





BAB III
PEMBAHASAN
            Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian. Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainnya dikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi. Atau bisa juga karena gangguan di kepala seperti geger otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.[1] Seperti contoh dibawah ini:
 “ Agus, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. Ia senang melakukan kegiatan olahraga, khususnya futsal. Ia memiliki kemampuan akademik yang cukup memadai. Meskipun demikian, gurunya menyatakan bahwa prestasi belajarnya sangat kurang. Gurunya meyakini bahwa Agus akan menjadi lebih baik dalam prestasi belajarnya apabila guru lebih banyak memberikan perhatian khusus kepadanya. Di sekolah, Agus sangat jarang mengerjakan tugas dan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya walaupun waktu yang disediakan cukup lama. Ia sering mengganggu teman-teman sekelasnya saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Ia sering meninggalkan tempat duduknya dan selalu bertanya-tanya sesuatu yang kurang bermanfaat kepada gurunya dan teman sebangkunya. Bahkan, ia sering menyakiti teman-temannya, misalnya menusuk tubuh temannya dengan ujung pensil yang telah di runcingkan. Saat melakukan futsal, ia bergerak kesana ke mari ke segala posisi dengan gerakan yang dilakukan secara berantai tanpa henti-hentinya. Namun, ia tidak segera menyelesaikan tugas sebagai seorang pemain yang sedang bermain futsal. Di rumah, Agus termasuk anak yang sulit di atur. Rumahnya menjadi berantakan karena ia sering melakukan aktivitas memprakarsai unuk mencoba-coba membongkar dan memasang benda-benda yang ada di sekitrnya tanpa di selesaikan dengan baik. Sering kali ia membanting dan melempar benda-benda yang ada di sekitar ruangannya. Ayahnya melaporkan kepada gurunya bahwa Agus sering lupa terhadap apa yang pernah ia lakukan sehingga ayahnya frustasi oleh ulahnya dan sering membentak dengan keras saat Agus berperilaku tidak mau diam, bahkan menjadi berlebihan.
v  Deskripsi kasus secara klinis
“ Agus secara jelas merupakan anak dengan karakteristik hiperaktif yang mempunyai kesulitan pemusatan perhatian secara berlarut-larut dalam melakukan suatu tugas yang di berikan kepadanya. Akibatnya, semua tugas yang di berikan kepadanya tidak pernah terselesaikan dan sering tidak mendengarkan dengan baik saat seorang berbicara dengan dirinya. Agus sering menunjukkan aktivitas geraknya yang sulit di hentikan. Anak-anak semacam Agus termasuk anak-anak hiperaktif yang berperilaku tidak mampu untuk diam sejenak dengan tenang di kursi belajarnya untuk beberapa menit (paling lama hanya lima menit) dan sering menunjukan gejala-gejala kegelisahan saat berada di ruang belajar. Dengan sikapnya tersebut menyebabkan gurunya dan teman-teman sekelasnya menjadi frustasi terhadap ulahnya. Dalam permainan futsal secara beregu, sering di lakukan pertemuan singkat saat waktu jeda dan sering kali Agus bertanya-tanya sambil berteriak-teriak terhadap pelatihnya
v  Cara mengatasi anak yang hiperaktif
a. Hubungan yang baik antara orang tua dengan anak
·         Mengidentifikasi segi positif.
Tidak ada anak yang benar-benar berantakan tanpa mempunyai segi positif, sekalipun ia tergolong anak yang hiperaktif. Satu hal yang salah dan sering terjadi, bahwa orang tua mengukur segi positif anak dengan saudara sekandung atau teman sebayanya. Perlu disadari bahwa setiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda meskipun saudara sekandung. Beberapa peraturan bagi anak dapat dibuat dengan memenuhi syarat berikut : jelas dan tidak abstrak, diawali dengan peraturan mudah dalam waktu yang pendek, tidak dengan marah ketika menerangkannya pada anak, sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan tidak terlalu banyak.
·         Memberi hadiah
Misalnya jika anak berhasil mngerjakan tugas sekolah misalnya, langsung diberikan hadiah, yang bersifat menyenangkan hati anak, konsisten yang berarti diberikan bagi anak yang benar-benar berhasil dan bukan karena rengekan, disampaikan dengan hangat dan dibarengi dengan pujian. Sesekali mengajak anak menyalurkan energinya di tempat yang lebih luas, misalnya di taman. Jika orang tua merasa butuh pertolongan, anak bisa dibawa ke klinik spesialis terpadu. Disana anak akan dibantu oleh beberapa ahlinya dalam ilmu penyakit jiwa anak, ilmu jiwa klinik, ilmu jiwa pendidikan, dokter anak dan psikoterapis. Bagaimanapun, anak adalah amanah Allah. Tugas orang tua adalah bagaimana memaksimalkan diri dalam membawa mereka menjadi hamba Allah yang shalih. Dan Allah-lah yang akan menentukan hasilnya.
b. Solusi mengatasi anak hiperaktif melalui bimbingan konseling di sekolah
            dalam penerapannya, teknik bimbingan konseling disekolah berupa kegiatan-kegiatan secara klasikal atau individual yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal. Ada beberapa teknik pendekatan tersebut, diantaranya yaitu :
1.      Alternatif Bantuan. Alternatif bantuan yang dapat diberikan adalah layanan bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok bertujuan membantu siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, dengan kata lain membantu siswa dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.
2.      Penetapan Bantuan yang Paling Visibel. Layanan yang dilaksanakan dapat berlandaskan teori Behavioristik.[2] Dengan menggunakan teori tersebut konseli dilatih untuk mampu mengkondisikan diri dalam situasi-situasi tertentu. Konseli dilatih untuk terbiasa berada pada satu kondisi yang dirinya tidak sukai, namun dia mampu mengatasi ledakan emosinya dalam kondisi tersebut.[3]
      Dengan langkah – langkahnya adalah sebagai berikut :
1.      Menempatkan anak di bangku yang dekat guru, di antara anak yang tenang dan amat memperhatikan pelajaran. 
2.      Menghindari menempatkan anak di dekat jendela, pintu terbuka atau gambar atau lukisan yang warnanya cerah karena akan merusak konsentrasinya.
3.      Menatap anak saat berkomunikasi. 
4.      Menyingkirkan perlengkapan yang tidak diperlukan di meja belajar anak, supaya perhatiannya tidak pecah. 
5.      Sesekali menggunakan kontak fisik, seperti memegang bahu atau menepuk punggung anak untuk memfokuskan perhatiannya. 
6.      Memberikan pujian bila anak tenang. 
7.      Memberitahukan orang tuanya agar menyediakan tempat belajar yang tenang, jauh dari televisi atau musik keras. 
8.      Mengingatkan orang tuanya agar melatih anak melakukan kegiatan secara teratur / terjadwal saat waktu tertentu (misalnya bangun, mandi, belajar, makan, tidur, baca buku, main dll). 
9.      Mendorong orang tuanya untuk melatih anak menyiapkan keperluan sekolah sebelum tidur, sehingga tidak tergesa-gesa di saat akan berangkat sekolah.
10.  Mengarahkan orang tuanya Untuk mengajak anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif yang "menguras" energinya, misalnya dengan berenang, ikut les musik/menari, dan sebagainya. Namun, dalam menolong anak yang hiperaktif karena kelebihan energi ini, kita tidak bisa sembarangan mengajak anak melakukan aktivitas-aktivitas fisik yang berat. Kita bisa juga mengajak anak untuk melakukan kegiatan yang memerlukan ketekunan dan konsentrasi, seperti menjodohkan gambar, menyusun angka 1-10, atau menyusun puzzle.[4]

BAB IV
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
       hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekehendak hatinya). Anak hiperaktif selalu bergerak dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai oleh anak-anak lain seusia mereka, dikarenakan perhatian mereka suka beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Ada tiga tanda utama anak yang menderita ADHD, yaitu: Tidak ada perhatian; Hiperaktif, mempunyai terlalu banyak energi; dan Impulsif, Bertindak tanpa dipikir atau berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibatnya. Beberapa hal berikut dapat dijadikan pedoman dalam menangani masalah anak hiperaktif:
1.    PERIKSALAH, tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. 
2.    PAHAMILAH, sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. 
3.    LATIH kefokusannya, jangan tekan dia, perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. 
4.    TELATENLAH, Jika dia telah "betah" untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan.
5.    BANGKITKAN kepercayaan dirinya, misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar,
6.    KENALI arah minatnya, jika anak bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia.
7.    MINTA dia bicara, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri.
B.  SARAN
       Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, akhir kata penulis menyadari bahwa makalah ini bukanlah proses akhir, tetapi merupakan langkah awal yang masih banyak memerlukan perbaikan. Karena itu kami sangat mengharapkan tanggapan, saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya makalah kami yang selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Suryadi. 2007. Cara Efektif Mamahami Perilaku Anak Usia Dini.
Gunarsa, Singgih. 1978. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Huda, M. Sholikul. Mengenal Anak Hiperaktif (gangguan hiperkinetik)
Tanner, T. Bradley MD. Attention Defisit Hiperactivity Disoder. ADD/ADHD
McLeod, John. 2010. Pengantar Konseling (Teori dan Kasus), Jakarta : Kencana Prenada Media Group
http://www.sulastowo.com/2008/04/16/anak-hiperaktif/
http://blog.umy.ac.id/suhe08/2011/12/30/cara-mengatasi-anak-hiperaktif/
http://repository.upi.edu/operator/upload/pro_2012_fip_puspa_menanganikesulitanmembacadanhubungansosialanakadhd.pdf
http://4yu8.wordpress.com/2010/02/23/contoh-kasus-anak-adhd/
http://c3i.sabda.org/menolong_anak_yang_hiperaktif


[1] http://ideguru.wordpress.com/2010/04/08/pengertian-anak-hiperaktif/
[2] John McLeod, Pengantar Konseling (Teori dan Kasus), Jakarta (Kencana Prenada Media Group : 2010), hlm. 500
[3]http://repository.upi.edu/operator/upload/pro_2012_fip_puspa_menanganikesulitanmembacadanhubungansosialanakadhd.pdf
[4] http://c3i.sabda.org/menolong_anak_yang_hiperaktif
Tweet
Title : cara mengatasi anak hiperaktif
Description : BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Mendidik anak untuk bisa pintar mungkin bisa dilakukan oleh siapa saja. Tetapi mendidik anak ...
Rating : 5

0 Response to "cara mengatasi anak hiperaktif"

← Posting Lebih Baru Posting Lama → Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Beranda
Photobucket

MENGENAI SAYA

Unknown
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

  • artikel (8)
  • Do'a (1)
  • Humor (2)
  • makalah (15)
  • puisi (1)
  • Resep Masakan (2)
  • soal (2)
Back to top!
Copyright 2013 Education Center - All Rights Reserved Design by Jaka Pentol - Powered by Blogger